Berita, Internasional

Trump Tuding Paus Bahayakan Umat Katolik Soal Perang Iran

Repelita.id

06 May 2026 14:31 WIB

Trump Tuding Paus Bahayakan Umat Katolik Soal Perang Iran
Foto: Istimewa

Repelita Washington DC - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial dengan menuding Paus Leo XIV membahayakan umat Katolik di seluruh dunia terkait sikap Vatikan yang menyerukan penghentian konflik dan dialog dalam perang melawan Iran.

Tudingan keras dari Gedung Putih ini mencerminkan perbedaan pandangan yang semakin melebar antara Washington dan Takhta Suci mengenai cara terbaik merespons eskalasi konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah yang kian memanas.

ADVERTISEMENT

Trump menilai pendekatan yang diusung oleh Paus Leo XIV terlalu lunak terhadap rezim Iran, sementara Vatikan dengan konsisten memegang teguh posisi moralnya untuk menolak perang dan mendorong penyelesaian damai melalui jalur dialog antar negara.

Pernyataan kontroversial tersebut disampaikan Trump dalam wawancara eksklusif dengan pembawa acara radio konservatif Hugh Hewitt di jaringan Salem News sebagaimana dilansir The Guardian pada Rabu (6/5/2026).

Dalam kesempatan itu, Trump secara tegas mengklaim bahwa Paus seolah-olah menganggap tidak menjadi masalah besar jika Iran memiliki senjata nuklir, sebuah klaim yang sama sekali tidak pernah diucapkan secara eksplisit oleh pihak Vatikan.

Lebih jauh lagi, mantan presiden yang kembali berkuasa itu menyampaikan kekhawatiran mendalam dengan pernyataan, “Saya pikir dia membahayakan banyak umat Katolik dan banyak orang.”

Ia juga menambahkan bahwa dalam pandangannya, sikap yang ditunjukkan Paus terhadap konflik Iran saat ini berpotensi besar melemahkan posisi keamanan global yang selama ini mati-matian didorong dan diupayakan oleh Amerika Serikat.

Padahal faktanya, Paus Leo XIV tidak pernah sekalipun menyatakan dukungan terhadap kepemilikan senjata nuklir oleh Iran dalam setiap pernyataan resmi Vatikan.

Sebaliknya, pemimpin Gereja Katolik sedunia tersebut secara konsisten dan berulang kali menyerukan penghentian segala bentuk konflik bersenjata, termasuk perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran serta eskalasi di Lebanon dan kawasan Timur Tengah lainnya.

Vatikan terus mendorong pendekatan dialog sebagai satu-satunya jalan keluar utama dari kebuntuan diplomatik yang terjadi di kawasan tersebut.

Di tengah memanasnya polemik ini, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dijadwalkan untuk mengadakan pertemuan bilateral dengan Paus Leo XIV di Vatikan dalam waktu dekat.

Pertemuan tingkat tinggi ini dipandang oleh berbagai kalangan sebagai bagian dari upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan yang meningkat tajam setelah serangkaian pernyataan keras dari Trump terhadap pemimpin Gereja Katolik tersebut.

Duta Besar Amerika Serikat untuk Takhta Suci, Brian Burch, menyebut bahwa pertemuan tersebut diharapkan dapat berlangsung secara terbuka, jujur, dan konstruktif tanpa saling menutup pintu komunikasi.

Burch menegaskan bahwa perbedaan pandangan antar negara adalah hal yang wajar dan tidak harus menjadi sumber konflik berkepanjangan selama dapat diselesaikan melalui dialog yang langsung dan mendasar.

Meskipun demikian, Burch dengan tegas menolak anggapan bahwa hubungan diplomatik antara Washington dan Vatikan saat ini sedang berada dalam kondisi retak atau memburuk.

Ia justru menilai bahwa kunjungan Rubio ke Vatikan menjadi kesempatan emas untuk memperkuat pemahaman bersama terkait perbedaan kebijakan luar negeri yang diambil oleh masing-masing pihak.

Kunjungan Rubio tersebut juga bertepatan dengan momentum peringatan satu tahun masa kepemimpinan Paus Leo XIV yang penuh dengan berbagai tantangan global.

Sebelum insiden ini, Trump telah beberapa kali melontarkan kritik pedas terhadap Paus, termasuk pernyataan yang menyebut bahwa pemimpin Vatikan tersebut tidak menjalankan peran kepemimpinannya secara optimal.

Di sisi lain, Rubio menegaskan bahwa kunjungannya ke Vatikan tidak secara khusus dimaksudkan untuk meredakan ketegangan dengan Paus melainkan merupakan agenda diplomatik yang telah direncanakan jauh sebelumnya.

Meskipun demikian, ia mengakui bahwa sejumlah isu strategis, termasuk kebijakan luar negeri AS dan berbagai konflik global, tetap akan dibahas secara terbuka dalam pertemuan tersebut.

Selain bertemu dengan Paus Leo XIV, Rubio juga dijadwalkan melakukan pertemuan dengan Sekretaris Negara Vatikan Pietro Parolin, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, serta Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani.

Wakil Presiden AS JD Vance turut memperkuat dinamika perdebatan dengan menyatakan bahwa Vatikan sebaiknya lebih fokus pada isu-isu moral yang menjadi kompetensi utamanya.

Vance juga mengingatkan agar Takhta Suci lebih berhati-hati dalam mengomentari persoalan perang dan teologi karena dapat menimbulkan interpretasi yang keliru di publik.

Pernyataan dari Wakil Presiden tersebut semakin menambah lapisan ketegangan dalam hubungan antara pemerintahan AS yang sedang berkuasa dengan Takhta Suci Vatikan.

Polemik terbuka antara Trump dan Paus Leo XIV ini mencerminkan benturan mendasar antara pendekatan geopolitik berbasis keamanan nasional yang diusung Washington dengan pendekatan moral-diplomatik yang menjadi ciri khas Vatikan.

Di tengah meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah, perbedaan perspektif yang tajam ini kembali menegaskan kompleksitas hubungan antara kekuasaan politik global dan otoritas keagamaan dalam merespons konflik internasional yang berkepanjangan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung