Berita, Timur Tengah

Tuntut Netanyahu Mundur Demo Besar Di Yerusalem Berujung Bentrok Brutal Antara Massa Dan Polisi

Repelita.id

17 May 2026 16:00 WIB

Tuntut Netanyahu Mundur Demo Besar Di Yerusalem Berujung Bentrok Brutal Antara Massa Dan Polisi
Foto: Istimewa

Repelita Yerusalem - Eskalasi bentrokan brutal pecah di jantung kota pada hari Sabtu kemarin ketika aksi unjuk rasa besar-besaran yang menuntut mundurnya Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berakhir dengan kericuhan parah antara barisan massa dan aparat kepolisian.

Kondisi di lapangan mendadak mencekam sewaktu petugas penegak hukum secara agresif menyeret para demonstran keluar dari jalur logistik utama dan memasang barikade besi berukuran besar demi memotong kepungan gelombang massa yang kian tidak terkendali.

ADVERTISEMENT

Meskipun diadang dengan tindakan refresif, kepungan ribuan pengunjuk rasa tetap nekat merangsek maju memadati pusat kota sembari meneriakkan yel-yel perlawanan dan mengibarkan atribut nasional guna mendesak perombakan total di tingkat eksekutif.

Di tengah situasi yang memanas akibat benturan fisik tersebut, salah satu simpatisan aksi menyuarakan kecaman kerasnya terhadap otoritas penguasa dengan menyatakan, "Israel membanggakan diri sebagai negara demokrasi Yahudi, tetapi kita melihat bahwa itu tidak benar. Kita melihat bahwa Israel sebenarnya adalah negara etnokratis yang menggunakan apartheid. Dan kita di sini untuk mengatakan 'tidak,' kita di sini untuk berunjuk rasa menentang hal itu," sebagai bentuk perlawanan sipil.

Kekecewaan mendalam dari masyarakat yang turun ke jalan tersebut dipertegas kembali oleh pernyataan lanjutan dari massa aksi yang berujar, “Harapan kami adalah pemilihan umum akan segera datang dan akan ada alternatif demokratis, karena kami telah hidup di bawah pemerintahan fasis terlalu lama. Dan setelah hampir 80 tahun, sudah saatnya untuk memiliki demokrasi,” demi menuntut pemulihan hak politik warga.

Dalam barisan demonstrasi yang diwarnai saling dorong itu, beberapa kelompok sipil juga menyerukan pesan politik kepada faksi oposisi domestik agar bergerak lebih progresif menghentikan dominasi kebijakan kelompok sayap kanan.

Harapan besar mengenai transisi kekuasaan pasca-bentrokan tersebut diutarakan oleh partisipan lain yang menegaskan, “Saya berharap kerusakan yang telah dilakukan hingga saat ini oleh koalisi Bibi, [yang] akan terdiri dari Ben-Gvir dan Smotrich, akan benar-benar diperbaiki oleh pemerintahan yang akan datang ini,” demi menyelamatkan masa depan negara.

Kerusuhan berskala besar di wilayah urban ini meletus bersamaan dengan memanasnya isu geopolitik regional terkait rencana perluasan wilayah yurisdiksi di Tepi Barat yang terus dipaksakan oleh rezim berkuasa saat ini.

Sikap keras pemerintah tersebut langsung memicu sanksi internasional dari Uni Eropa pada hari Senin yang menyasar sejumlah tokoh konservatif karena dianggap memicu konflik berdarah terhadap warga sipil Palestina di area sengketa.

Di sisi lain, sekutu utama mereka yakni Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya sudah melayangkan peringatan keras bahwa dirinya menentang agenda aneksasi tersebut dan berjanji tidak akan membiarkan kebijakan itu berjalan.

Ketegangan politik yang berujung pada bentrokan berdarah di jalanan ini diprediksi akan mempercepat jatuhnya koalisi kabinet, sehingga pelaksanaan pemilu legislatif 2026 yang dijadwalkan pada Oktober kemungkinan besar digeser ke bulan September.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung