Repelita [Jakarta] - Jejak rekam akademis Rifaldy Fajar di Universitas Negeri Yogyakarta kini menguak sebuah anomali besar di tengah bergulirnya isu manipulasi karya ilmiah internasional. Oknum peneliti tersebut diketahui merupakan alumnus dari Program Studi Matematika di kampus kependidikan itu untuk angkatan masuk tahun 2014.
Saat masih berstatus sebagai mahasiswa aktif, ia sebetulnya memiliki catatan prestasi yang sangat cemerlang di lingkungan internal kampus. Pihak otoritas universitas bahkan sempat menganugerahi dirinya sebagai peraih predikat Mahasiswa Berprestasi Utama tingkat universitas pada tahun 2017.
ADVERTISEMENT
Walau memiliki jam terbang tinggi dalam memaparkan makalah ilmiah di berbagai panggung dunia, reputasi sang alumnus kini hancur akibat pusaran skandal pemalsuan data. Jagat maya saat ini sedang dihebohkan oleh kabar miring mengenai draf riset palsu dari oknum ilmuwan lokal dalam simposium kesehatan di Denmark.
Perkara memalukan ini memicu kekhawatiran massal karena dinilai berpotensi merusak nama baik serta tingkat kepercayaan global terhadap komunitas peneliti tanah air. Polemik bermula saat sebuah tulisan kritis diunggah oleh akun media sosial threads.net/@mandharabrasika yang membongkar sejumlah keanehan dalam draf presentasi kasus pneumonia di Kopenhagen.
Catatan kritis tersebut langsung tersebar luas hingga memicu perdebatan panjang di kalangan akademisi, dosen, serta mahasiswa di berbagai forum diskusi digital. Sorotan utama publik tertuju pada adanya manipulasi pergantian nama pembicara saat jadwal pemaparan materi di atas panggung sedang berlangsung.
Selain itu, warganet juga mendeteksi adanya indikasi kuat mengenai pemanfaatan program kecerdasan buatan serta rekayasa angka statistik dalam menyusun draf laporan fiktif tersebut. Spekulasi kian liar lantaran berkas bermasalah itu sengaja diajukan demi mengejar insentif pembiayaan perjalanan gratis dari lembaga donor internasional.
Kondisi tersebut membuat publik mempertanyakan sistem pengawasan dari pihak kurator ilmiah yang meloloskan berkas fiktif tersebut ke panggung Eropa. Nama Rifaldy Fajar pun menjadi sasaran empuk kritik tajam karena dituding sengaja mengarang nama unit kerja kedinasan yang ada di lingkungan kampusnya terdahulu.
Masyarakat menyoroti klaim sepihak mengenai keberadaan departemen bedah transplantasi hati di Universitas Negeri Yogyakarta dalam lembar dokumen penelitiannya. Padahal, berdasarkan pengecekan data sekunder, unit medis khusus tersebut sama sekali tidak pernah beroperasi di bawah naungan universitas kependidikan tersebut.
Hingga saat ini, belum ada keputusan hukum maupun sanksi organisasi yang dikeluarkan secara resmi terkait perkara manipulasi draf akademis ini. Kendati demikian, gelombang desakan dari komunitas intelektual terus mengalir agar para pihak terkait segera memberikan pernyataan terbuka guna membersihkan iklim akademis nasional.
Para pakar juga mengingatkan agar pemanfaatan teknologi komputasi pintar tidak disalahgunakan untuk memproduksi data lapangan fiktif yang melanggar kode etik keilmuan. Publik kini menanti hasil investigasi komprehensif dari komite etik universitas demi mencegah meluasnya dampak buruk berupa pengucilan ilmuwan lokal di level internasional.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok