Repelita New York - Jutaan anak-anak diklaim terdampak langsung oleh perang Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, dimana UNICEF mencatat lebih dari 340 anak tewas dan ribuan lainnya terluka sejak awal konflik pecah.
Lebih dari 1,2 juta anak di seluruh kawasan diklaim terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat gempuran yang terus berlangsung di berbagai front pertempuran.
ADVERTISEMENT
Direktur Eksekutif UNICEF, Catherine Russell, menyebut bahwa anak-anak di kawasan tersebut terekspos pada kekerasan yang mengerikan sementara sistem dan layanan yang seharusnya melindungi mereka justru ikut menjadi sasaran serangan.
"Anak-anak di kawasan ini terpapar kekerasan yang mengerikan, sementara sistem dan layanan yang seharusnya menjaga keselamatan mereka justru ikut diserang," kata Russell mengutip pemberitaan The Guardian.
Insiden dengan korban anak terbesar diklaim terjadi pada hari pertama perang, ketika serangan rudal Washington terhadap sebuah sekolah di Iran diklaim menewaskan setidaknya 160 anak dan guru sekaligus.
Serangan mematikan ini kemudian disebut oleh Unesco sebagai sebuah pelanggaran serius terhadap hukum internasional yang mengatur perlindungan warga sipil dalam konflik bersenjata.
Selain di Iran, serangan Israel ke Lebanon, Tepi Barat, dan Gaza diklaim semakin memperparah situasi kemanusiaan yang sudah sangat buruk bagi anak-anak di seluruh kawasan.
Di Lebanon, lebih dari 1,1 juta orang diklaim terpaksa mengungsi akibat serangan Israel, dengan hampir 400.000 di antaranya adalah anak-anak yang rentan.
Hampir 90 persen dari total pengungsi diklaim tinggal di luar tempat penampungan resmi, dengan banyak dari mereka yang terpaksa tidur di jalanan tanpa perlindungan memadai.
Seorang ibu bernama Nidal Ahmed kini tinggal di tenda darurat bersama dua anaknya di kawasan hiburan Biel, Beirut, setelah rumahnya di Tyre hancur akibat serangan udara pada hari kedua perang.
"Sudah jam 5 sore dan kami belum makan apa-apa hari ini. Kami hanya bisa memberi anak-anak teh dan sedikit roti," kata Ahmed menggambarkan kondisi keluarganya yang memprihatinkan.
Putri bungsunya yang baru berusia delapan bulan, Zahraa, hanya bisa makan remah-remah roti pipih tua karena keluarga tersebut sudah kehabisan uang setelah sebulan mengungsi.
Perwakilan UNICEF di Lebanon, Marcoluigi Corsi, memperingatkan bahwa kondisi pengungsian yang berulang ini akan meninggalkan dampak psikologis jangka panjang yang serius bagi anak-anak.
"Siklus pengeboman dan pengungsian yang tak henti-hentinya memperparah luka psikologis mereka secara serius," kata Corsi mengingatkan dunia internasional.
Ahmed sendiri mengaku sudah melihat dampak psikologis itu pada putranya yang baru berusia tiga tahun, dimana setiap kali pesawat tempur Israel menembus penghalang suara anaknya langsung berlari mencari tempat persembunyian.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok