Berita, Nasional

Utang Alutsista Tembus Rp622 Triliun, Pengamat Desak Pemerintah Fokus pada Tiga Prioritas Utama demi Efektivitas Pertahanan

Repelita.id

01 June 2026 17:15 WIB

Utang Alutsista Tembus Rp622 Triliun, Pengamat Desak Pemerintah Fokus pada Tiga Prioritas Utama demi Efektivitas Pertahanan
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Besarnya nilai utang untuk pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) yang mencapai 34,8 miliar Dolar AS atau sekitar Rp622 triliun menuntut pemerintah untuk menentukan prioritas belanja yang sangat ketat.

Pengamat pertahanan, Alman Helvas Ali, menekankan bahwa di tengah kondisi ekonomi global yang tidak pasti, anggaran jumbo tersebut tidak akan memberikan dampak optimal jika tidak difokuskan pada kebutuhan operasional yang paling mendesak.

ADVERTISEMENT

Langkah strategis pertama adalah memperkuat dukungan logistik terintegrasi atau Integrated Logistic Support (ILS) untuk alutsista yang sudah ada agar sistem senjata tetap beroperasi maksimal.

“ILS itu artinya suku cadang, perawatan, dan lain-lain,” ujar Alman dalam diskusi Pengadaan Peralatan Pertahanan Berbasis Value for Money di Kemang, Jakarta Selatan, Minggu (31/5/2026).

Prioritas kedua difokuskan pada penguatan kekuatan laut, khususnya penambahan kapal selam dan fregat, mengingat unit kapal selam Scorpene yang dipesan baru akan beroperasi pada 2031-2032.

“Artinya kita membutuhkan kapal selam baru yang mungkin bisa siap dalam waktu 2 sampai 3 tahun,” kata Alman.

Ia juga menambahkan pentingnya penambahan fregat PPA untuk memperkuat satuan kapal eskorta TNI AL.

“Karena kita butuh minimal terbentuk satu divisi fregat PPA di dalam Satkor,” ujarnya.

Prioritas ketiga adalah memastikan sistem persenjataan pendukung terpasang lengkap pada platform yang sudah dimiliki, serta memaksimalkan peran industri pertahanan dalam negeri untuk kebutuhan tertentu seperti kapal patroli.

Alman bahkan menegaskan bahwa efektivitas anggaran dapat tercapai meskipun ada pengurangan nilai, asalkan arah kebijakan penggunaan dana tetap jelas dan terfokus.

“Jadi anggaran USD34,8 miliar itu kalaupun dipotong setengahnya sebenarnya masih bisa efektif kalau pemerintah mau,” ujarnya.

Dalam forum yang sama, mantan Asrenum Panglima TNI, Laksamana Muda TNI (Purn) Agung Pramono, menyatakan bahwa sistem perencanaan berlapis sangat krusial agar pemerintah tetap adaptif terhadap perubahan kondisi ekonomi dan ancaman global.

“Kalau di tengah jalan ada persoalan ekonomi global yang seperti saat ini, itu akan pindah ke mana. Itulah perencanaan yang memang siap untuk menghadapi perubahan-perubahan seperti adanya ekonomi global yang seperti saat ini,” kata Agung. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung