Berita, Viral Sosmed

[VIRAL] Aksi Udayana di Bali Suarakan Keresahan Rakyat dan Kritik terhadap Kebijakan Penguasa

Repelita.id

01 November 2026 13:51 WIB

[VIRAL] Aksi Udayana di Bali Suarakan Keresahan Rakyat dan Kritik terhadap Kebijakan Penguasa
Foto: Istimewa


Aliansi Mahasiswa Udayana Gelar Unjuk Rasa Besar Bersuara Kritisi Keadilan Hukum di Bali

ADVERTISEMENT

Repelita Jakarta - Gelombang unjuk rasa mahasiswa kembali pecah di Pulau Dewata sebagai wujud protes terhadap jalannya roda pemerintahan nasional.

Aksi turun ke jalan oleh kelompok intelektual muda ini membawa sejumlah tuntutan krusial terkait keadilan hukum dan kebijakan publik.

Dokumentasi mengenai pergerakan massa tersebut diunggah oleh akun @nana_nug pada hari Minggu, 1 November 2026.

Pemilik akun menyatakan bahwa demonstrasi merupakan langkah nyata saat ruang penyampaian aspirasi masyarakat dinilai telah tersumbat.

Akun @nana_nug menegaskan komitmen perlawanan tersebut melalui takarir unggahannya, "UDAYANA BERGERAK! (Bali, 1 Nov 2026) Hari ini mereka turun ke jalan membawa jutaan keresahan rakyat yang tak terdengar di kursi kekuasaan! Saat hukum bisa dibeli dan kebijakan mencekik rakyat kecil, diam adalah pengkhianatan! Kain putih itu adalah bukti bahwa suara mereka tidak akan mati, dan akan terus berlipat ganda menembus dinding ketulian penguasa. Mari kawal barisan mereka,jaga api perlawanan tetap menyala. Panjang umur perjuangan, panjang umur keberanian!".

Aksi tersebut langsung memancing beragam opini dari netizen mengenai efektivitas serta latar belakang keterlibatan masyarakat lokal setempat.

Seorang pengguna media sosial mengungkapkan kesedihannya atas adanya pihak-pihak yang masih mempertanyakan urgensi dari sebuah gerakan demonstrasi.

Pernyataan keprihatinan terhadap kondisi sosiopolitik itu disampaikan oleh akun @dewi_lastari, "Kak maafin kalo ada yg komentar yg mempertanyakan "buat apa demo" itu ya. Miris kali aku bacanya di ig. Apa selama ini mereka buta ya ga baca berita 🥹, apa mereka ga tau impacknya ke semua aspek masyarakat kalo rezim ini terus dipertahankan tanpa kita bersuara. Aku jg ga bisa demo tapi aku selalu berusaha share postingan ttg masalah2 yg kita hadapi skrg. Semoga segera ada perubahan, kita ga bisa hidup di rezim ini. Bener2 sakit jiwa pemerintahan kita."

Menanggapi komentar tersebut, sang pemilik akun memberikan validasi bahwa setiap bentuk dukungan di jagat digital memiliki nilai yang sama besarnya.

Ia menilai penyebaran informasi di lini masa turut andil dalam membuka mata publik yang belum memahami situasi riil negara saat ini.

Pernyataan apresiasi itu dituliskan kembali oleh akun @nana_nug, "Gak perlu minta maaf, Kak! Apa yang Kakak lakukan dengan bantu share postingan itu udah kontribusi yang berharga banget. Perjuangan itu gak cuma yang turun ke jalan, tapi juga yang bantu menyalakan suaranya di media sosial biar makin banyak yang melek. Terima kasih banyak ya atas dukungannya!".

Di sisi lain, perdebatan mengenai partisipasi masyarakat adat setempat juga menjadi poin pembahasan tersendiri bagi kalangan warga digital.

Seorang netizen meluruskan anggapan miring publik yang menilai wilayah tersebut pasif dari aktivitas penyampaian pendapat di muka umum.

Sindiran mengenai kehadiran elemen pemuda itu ditegaskan oleh akun @afndyrzk, "Katanya warga Bali g turun demo, warga nya emng g turun, tp dsna ada MAHASISWA!!".

Argumen tersebut langsung disepakati oleh pihak pengunggah yang menilai kaum akademisi kini bertindak sebagai pemegang kendali utama perjuangan.

Penegasan atas peran penting aliansi pemuda tersebut dijawab langsung oleh akun @nana_nug, "Fakta! Ketika suara rakyat tersumbat, mahasiswa yang ambil alih panggung buat bersuara."

Meskipun demikian, sebuah analisis sosial mengenai keengganan sebagian masyarakat lokal untuk bergabung dalam aksi berskala nasional turut diungkapkan.

Seorang warganet menjelaskan bahwa publik setempat sebenarnya lebih menaruh perhatian pada penyelesaian ketimpangan domestik yang terjadi di daerah sendiri.

Akun @bagusokasurya membeberkan realitas sudut pandang warga lokal, "Sayangnya warga Bali maunya angkat isu internalnya mereka dulu seperti kasus diskriminasi orang Bali di tempat kerja, dan isu pemerintah mengutamakan pendatang berujung hukum nya jadi rasis ke orang lokal Bali... Ada yang angkat isu itu, yakin saya orang Bali pasti datang sendiri bahkan banyak yang datang. Kalau isu nasional, ya gitu deh, dikit yang mau gerak karena toh suara orang Bali aja gak pernah didengar pusat... Toh pusat juga mengutamakan SDM dia doang, orang Bali aja dibilang rasis".

Pandangan komprehensif tersebut langsung mendapat respons positif dari pengunggah video yang menilai masukan itu sangat membuka wawasan baru.

Ke depannya diharapkan ada kolaborasi yang mampu menyatukan kepentingan domestik daerah dengan tuntutan makro di tingkat pusat.

Pernyataan penutup dialog itu disampaikan oleh akun @nana_nug, "Sudut pandang yang sangat mencerahkan. Bener banget, isu lokal seperti hak pekerja asli Bali and diskriminasi di rumah sendiri emang krusial banget tapi jarang dapat panggung besar. Semoga ke depannya aliansi mahasiswa juga bisa merangkul dan menyuarakan isu2 domestik ini biar warga lokal merasa diwakili sepenuhnya. Terima kasih insight-nya. Kak!".(*)

Editor: 91224 R-ID Elok









View on Threads

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung