Repelita Jakarta - Ruang pertemuan akademis mendadak riuh oleh gelombang sorak penonton setelah seorang akademisi sekaligus pengamat politik nasional melontarkan kelakar satir bernada sentilan tajam yang mengarah langsung pada visualisasi gambar Wakil Presiden Republik Indonesia.
Sorotan publik tersebut mencuat saat tokoh intelektual itu tengah didapuk sebagai salah satu pembicara utama dalam panggung ilmiah kenegaraan yang awalnya berfokus pada ekologi berpikir dan kecerdasan buatan.
ADVERTISEMENT
Tayangan dari kanal YouTube Nusantara TV mengonfirmasi bahwa orasi ilmiah penuh kritik argumentatif tersebut disampaikan secara blak-blakan oleh Rocky Gerung dalam agenda formal kedinasan.
Menurut pembicara dalam video di kanal YouTube Nusantara TV, Rocky Gerung sendiri menyoroti komposisi latar belakang layar digital LED di atas panggung yang menampilkan potret dua pemimpin tertinggi negara.
Ia membandingkan visual lampu pijar di belakang foto Presiden Prabowo Subianto dengan gambar stasiun pengisian daya kendaraan listrik yang dipasang tepat di sisi foto Gibran Rakabuming Raka.
Rocky Gerung secara gamblang melontarkan pertanyaan retoris di depan forum dengan berujar bahwa jadi Pak Prabowo, tanda kita berpikir adalah lampu ini, bener kan? Ini tanda kita berpikir, ada cahaya di otaknya.
Ada Pak Gibran, ini saya enggak tahu kenapa panitia, lanjut sang pengamat politik mempertanyakan konsep desain grafis yang disiapkan oleh pihak penyelenggara acara.
Ia menyambung kalimat kritiknya dengan menegaskan bahwa di situ di belakangnya ada lampu pijar, di belakang Pak Gibran ada charging mobil.
Apakah otak Pak Gibran itu masih perlu di-charge?, pungkasnya yang seketika memicu gelombang tawa serta riuh sorak dari ratusan mahasiswa yang memadati ruangan diskusi ilmiah tersebut.
Agenda bertajuk What's Up Kemenkum Campus Calls Out yang diselenggarakan di Universitas Airlangga pada hari Kamis, 17 September 2026 tersebut turut dihadiri langsung oleh Menteri Hukum Supratman Andi Agtas.
Pihak pembicara mengklarifikasi bahwa rangkaian celotehan menohok itu sama sekali tidak dimaksudkan sebagai bentuk penghinaan personal, melainkan murni sebuah kritik berbasis argumen ilmiah terhadap pejabat publik. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok