Berita, Nasional

[VIRAL] Cak Nun Soroti Syarat Pemimpin Indonesia, Pernyataan Lama Kembali Dikaitkan dengan Prabowo

Repelita.id

10 October 2026 17:41 WIB

[VIRAL] Cak Nun Soroti Syarat Pemimpin Indonesia, Pernyataan Lama Kembali Dikaitkan dengan Prabowo
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Pernyataan budayawan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun mengenai karakter pemimpin Indonesia kembali menjadi sorotan setelah diunggah ulang oleh kanal YouTube hijrah daily melalui video berjudul “Ucapan Cak Nun terbukti lagi, sekarang tinggal nunggu giliran pak Prabowo”.

Dalam rekaman tersebut, Cak Nun membahas kompleksitas persoalan Indonesia dan menegaskan bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki niat baik, tetapi juga harus kuat, berani, tahan menghadapi tekanan, serta dekat dengan Tuhan.

ADVERTISEMENT

Cak Nun mengawali pembahasannya dengan menyinggung kepemimpinan Joko Widodo dan mempertanyakan makna kebaikan seorang pemimpin apabila tidak disertai kemampuan menghadapi berbagai persoalan bangsa.

Menurutnya, Indonesia memiliki persoalan yang sangat rumit sehingga membutuhkan pemimpin dengan karakter yang lengkap, bukan hanya sosok yang dianggap baik.

Ia menjelaskan bahwa seorang pemimpin harus memiliki kekuatan, keteguhan, keberanian mengambil risiko, dan kemampuan menghadapi tekanan tanpa kehilangan pegangan moral serta spiritual.

Pembicaraan kemudian beralih kepada Prabowo Subianto. Cak Nun menyinggung peristiwa penculikan aktivis menjelang berakhirnya pemerintahan Orde Baru dan menghubungkannya dengan perjalanan politik sejumlah orang yang kemudian mendukung Partai Gerindra.

Dalam pandangannya, sejumlah aktivis yang diculik tetapi kemudian kembali ke masyarakat pada akhirnya memiliki hubungan politik dengan Gerindra. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai penilaian Cak Nun dalam rekaman yang diunggah kembali oleh kanal YouTube hijrah daily.

Cak Nun juga mengungkapkan sikapnya terhadap tuduhan dan manipulasi yang diarahkan kepadanya. Ia menyatakan tidak terlalu mempersoalkan berbagai tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa dirinya tidak akan gentar menghadapi fitnah.

Selain membahas tokoh politik, Cak Nun mengulas identitas keindonesiaan melalui sejarah kerajaan Kalingga pada masa Ratu Shima serta Majapahit pada masa Hayam Wuruk dan Gajah Mada.

Ia mengaitkan sejarah tersebut dengan tata kepemimpinan dan pembagian tanggung jawab dalam pemerintahan. Menurutnya, sistem kepemimpinan memerlukan pembagian peran yang jelas antara kepala negara, pelaksana pemerintahan, dan pihak-pihak yang mendampingi penguasa.

Dalam pembahasan itu, Cak Nun menyinggung istilah “panembahan” dan “punokawan” sebagai bagian dari gambaran pola kepemimpinan pada masa lalu. Ia kemudian membandingkannya dengan sistem politik modern yang menurut pandangannya tidak lagi memperlihatkan pembagian peran serupa.

Persoalan karakter masyarakat juga menjadi perhatian Cak Nun. Ia menyoroti memudarnya rasa malu, perilaku masyarakat di jalan raya, serta sikap sebagian orang yang dinilainya belum sepenuhnya memahami makna menjadi bangsa Indonesia.

Cak Nun turut membicarakan konsep pemimpin dengan sifat “muannas” atau feminin. Dalam konteks pembicaraannya, sifat tersebut berkaitan dengan kemampuan menerima tekanan dan menampung berbagai persoalan, bukan hanya mengandalkan ketegasan atau keputusan sepihak.

Ia juga menyinggung pengaruh pihak asing, termasuk Dana Moneter Internasional atau IMF, serta persoalan kontrak pengelolaan sumber daya alam Indonesia.

Berbagai persoalan tersebut menjadi bagian dari kritik Cak Nun terhadap cara negara mengelola pemerintahan, menjaga kemandirian, dan menentukan arah kebijakan nasional.

Video yang diunggah kanal YouTube hijrah daily kembali mengangkat pandangan Cak Nun mengenai kepemimpinan, sejarah, identitas bangsa, dan dinamika politik Indonesia. Judul video tersebut menghubungkan pernyataan lama Cak Nun dengan pemerintahan Prabowo Subianto.

Namun, isi rekaman perlu dipahami berdasarkan konteks pembicaraan aslinya. Pernyataan tersebut merupakan pandangan Cak Nun dan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh kritik yang disampaikannya secara khusus merujuk pada situasi pemerintahan saat ini.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung