Repelita Jakarta - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan tanggapan defensif setelah rekaman video dirinya dicegat warga setempat viral di media sosial.
ADVERTISEMENT
Insiden adu argumen yang memicu perdebatan luas ini ditayangkan melalui kanal YouTube DEMOCRAZY News pada Sabtu (17/10/2026).
Rombongan mantan Bupati Purwakarta tersebut dihadang secara mendadak sewaktu melintasi kawasan Dusun Sidamukti, Desa Cintajaya, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis.
Warga sengaja membelokkan paksa rute kendaraan Dedi Mulyadi menuju ke akses jalan rusak parah yang kondisinya sangat memprihatinkan.
Aksi pemblokiran sepihak itu sengaja direkam menggunakan kamera handphone oleh salah seorang warga demi memprotes buruknya infrastruktur daerah.
"Jalannya butut, Ciamis nih, jalan butut nih pak KDM," seru salah satu warga di dalam unggahan video tersebut.
Mendapat perlakuan itu Dedi Mulyadi langsung merespons dengan nada tinggi dan menganggap taktik pengadangan tersebut sebagai bentuk pemaksaan.
Pihaknya merasa keberatan lantaran waktu istirahat satu jam di dalam kendaraan yang sangat ia butuhkan justru dikacaukan oleh aksi itu.
"Jam segini belum selesai kegiatan tiba-tiba kita ini coba istirahat satu jam di mobil sampai ke lokasi, oleh ibu disiksa saya dibelokin dulu. Gak boleh begitu," semprot Dedi Mulyadi.
Kelelahan fisik yang mendalam membuat politisi ini spontan membandingkan etika masyarakat Lakbok dengan warga di wilayah kecamatan lain.
Ia merasa tata krama kesopanan serta budaya ketimuran masyarakat Sunda sama sekali tidak tecermin dari metode pengadangan mobil tersebut.
"Orang Sukamantri, Panjalu, kok punya adab sepanjang jalan, kok orang sini begini. Ada saatnya juga saya pada warga memberi penjelasan dan pengertian. Saya mengerti warga, tapi warga pun juga harus mengerti, saya juga manusia. Saya hanya punya waktu 1 jam punya waktu untuk duduk di mobil karena pasti di sana bergumul warga," ulas Dedi Mulyadi.
Ia menggarisbawahi bahwa dirinya tidak anti terhadap aspirasi publik asalkan disampaikan dengan cara yang manusiawi tanpa tekanan massa.
"Padahal sederhana saja, pak jalannya nanti juga saya perhatikan. Tidak mesti, saya ini bukan orang dungu, bukan bodoh, bukan orang yang tidak pernah peduli warga saya nih. Cukup diberitahu pak jalan sini jelek, itu saja cukup," lanjutnya lagi.
Pada akhir penjelasannya Dedi Mulyadi menegaskan prinsip ketatnya yang enggan menoleransi segala modus premanisme ruang publik berkedok viral.
"Saya orang Sunda asli punya rasa, kadang orang meminta tanpa diminta saya kabulkan. Tapi kalau dengan menekan saya, kadang saya tidak respect," tegasnya memungkasi perdebatan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok