Repelita Jakarta - Bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober, mahasiswa bersama berbagai elemen masyarakat sipil menggelar aksi demonstrasi bertajuk Indonesia Sadar di Bundaran HI, Jakarta Pusat.
Mereka menyampaikan beragam tuntutan yang mencakup penanganan bencana ekologis, perbaikan kondisi ekonomi, serta perlindungan hak asasi manusia.
ADVERTISEMENT
Sejumlah perempuan yang hadir dalam aksi tersebut menyampaikan keresahan masing-masing terkait biaya pendidikan yang mahal, kesulitan memperoleh pekerjaan layak, serta upah yang tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Ada pula yang mendesak pemerintah segera menangani kebakaran hutan dan lahan beserta dampaknya terhadap anak-anak.
Selain menyuarakan tuntutan, para perempuan juga berperan aktif di lapangan dengan menyediakan bantuan logistik, medis, hingga mengelola donasi untuk kebutuhan massa aksi.
Informasi mengenai aksi tersebut diunggah oleh akun @magdaleneco_.
Salah satu peserta aksi mengatakan, "saya nggak bisa kuliah karena saya nggak punya uang tolong prabowo tolong pejabat menteri pendidikan siapapun saya nggak tahu saya pintar tapi nggak bisa kuliah karena biaya terlalu tinggi harus kerja dari pagi sampai malam buat bayar pajak doang."
Seorang ibu rumah tangga yang turut hadir mengungkapkan, "saya sebagai seorang ibu anak saya baru sma sma karena tidak mampu kan untuk menyekolahkan lagi pendidikan lebih tinggi lagi saya bicara berdasarkan pengamatan saya pribadi dan penderitaan yang saya rasakan selama mengurus anak seorang diri menyekolahkan anak tapi tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak sedangkan masyarakat yang membutuhkan pekerjaan sangat banyak tapi standar gaji yang diberikan itu sangat kecil sehingga sama sekali tidak menutup pengeluaran dalam satu bulan."
Peserta lainnya menyampaikan kritik terkait anggaran pemerintah dengan menyatakan, "pak prabowo udahlah uangnya 100 ratusan teh ayo kita salurkan ke masyarakat ayo kita salurkan ke karhutla bapak tega nggak sih lihat anak-anak yang mati kena asap karhutla itu anak itu nyawa nyawa melayang meninggal anak bayi umur satu tahun itu gara-gara ulah bapak dan jangan bodoh-bodohin rakyat bilang ini bencana alam el dinyo itu fakta scientific yang udah dikaji sama ilmuwan ilmuwan dari Indonesia dan kajiannya udah dari bertahun ke tahun mau coba disampaikan ke bapak lengkap dengan solusinya mitigasinya tapi bapak nggak dengar jadi jangan bohongin rakyat bilang ini alam karena ini fakta ilmiah."
Dalam kesempatan yang sama disampaikan pula informasi bahwa, "teman-teman kami ingin menginformasikan baik di Kalimantan tengah Kalimantan selatan Kalimantan Barat Kalimantan Timur telah melaksanakan gerakan mengutuk pemerintah provinsi karena pemerintah provinsi gagal tidak berani mendesak Pusat untuk menetapkan char hutla yang sudah 4 bulan lebih ini menjadi bencana nasional teman-teman."
Aksi yang digelar di Bundaran HI tersebut menjadi ruang bagi berbagai kelompok masyarakat untuk menyuarakan keprihatinan atas kondisi sosial dan lingkungan yang mereka alami sehari-hari.
(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
@magdaleneco_ Bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda (28/10), mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat sipil menggelar demonstrasi #IndonesiaSadar di Bundaran HI, Jakarta Pusat. Mereka menyuarakan beragam tuntutan, mulai dari penanganan bencana ekologis hingga perbaikan ekonomi dan perlindungan HAM. Sejumlah perempuan yang kami temui membawa keresahan masing-masing. Ada yang memprotes mahalnya biaya pendidikan, sulitnya mendapat pekerjaan layak, dan upah yang tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada pula yang mendesak pemerintah menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dampaknya terhadap anak-anak. Tak hanya menyuarakan tuntutan, perempuan juga mengambil peran aktif di lapangan, mulai dari menyediakan bantuan logistik dan medis hingga mengelola donasi untuk memenuhi kebutuhan massa aksi. #perempuan #sumpahpemuda ♬ original sound - magdaleneco_