Repelita [Jakarta] - Gelombang kritik meluas di platform media sosial menyasar aksi dramatis Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono saat merespons maraknya insiden keracunan program Makan Bergizi Gratis. Publik menilai respons emosional berupa tangisan di hadapan media tersebut tidak memberikan solusi konkret bagi para korban yang terdampak.
Eskalasi kecaman makin tajam seiring banyaknya pengguna internet yang mempertanyakan efektivitas kepemimpinan lembaga dalam mengusut tuntas penyebab utama pencemaran makanan. Penanganan kasus keracunan massal dinilai membutuhkan tindakan hukum yang tegas serta perbaikan sistemik, bukan sekadar peragaan simpati emosional.
ADVERTISEMENT
Sejumlah warganet melontarkan tanggapan langsung terkait aksi tersebut di media sosial.
Akun @Auli_V
mengutarakan kekesalannya terhadap aksi tersebut, "Gua pngen nampolll tuh muke serious pake smpet bikin sinetron pulak 🤮"
Sementara itu, akun @hafurinka
mempertanyakan kapasitas kepemimpinan pejabat publik dengan menulis, "Masa iya dengan segala akses dan kemampuan yang ada sebagai kepala lembaga, bisanya cuma akting nangis doang?"
Kritik mendasar mengenai pola komersialisasi program sosial juga disampaikan oleh pengguna jaringan digital.
Melalui akun @gaptekbet
, diungkapkan pandangan mengenai akar permasalahan program, "MBG itu Komersialisasi Program Sosial. Makanya banyak terdapat masalah. Soal higienis saja tdk diperhatikan, apakah masih berharap gizinya terpenuhi?"
Desakan agar pihak berwenang segera memenjarakan oknum pengelola penyedia makanan yang lalai terus mengalir deras dari masyarakat. Sorotan publik kini tertuju pada komitmen pemerintah dalam mengevaluasi total standar kebersihan serta keamanan pangan guna mencegah berulangnya insiden serupa di berbagai daerah.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok