Repelita Jakarta - Gelombang kritik dari masyarakat sipil terhadap arah perombakan tatanan regulasi nasional di bawah kendali otoritas kekuasaan saat ini dilaporkan kian memuncak.
Langkah pengubahan berbagai aturan strategis dinilai publik cenderung mengabaikan kedaulatan hukum demi mengamankan eksistensi serta pemenuhan target kelompok tertentu.
ADVERTISEMENT
Sorotan tajam mengenai dugaan manipulasi aturan demi kepentingan elite politik tersebut diunggah di ruang digital pada 29 Oktober 2026.
"Salut sama yg buat ini.... D tangan s gemoy semua nya serba d ubah D ubah utk kepentingan nya, partai nya and kroco2 Pendukung nya... Mereka semakin tambun alias gendut o/isap darah rakyat..." tulis akun @angyatloho.
Unggahan tersebut menggambarkan meluasnya kekecewaan publik terhadap pergeseran orientasi kepemimpinan nasional yang dianggap memprioritaskan aliansi pendukung politiknya.
Keuntungan fasilitas serta akumulasi kapital yang dinikmati barisan lingkaran dalam kekuasaan dipandang kontras dengan beban hidup yang harus ditanggung masyarakat bawah.
Reaksi atas situasi sosial kemasyarakatan tersebut juga melahirkan keprihatinan emosional mengenai benturan kepentingan antar-sesama elemen bangsa di lapangan.
Warganet menyayangkan dinamika pergerakan saat ini yang justru memposisikan masyarakat sipil harus berhadapan dengan barisan birokrasi dari bangsanya sendiri.
"KASIAN YAH..!! MUSUH MEREKA/KITA ADALAH BANGSA SENDIRI.. 😓🥴" pungkas akun @fazasabar.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
View on Threads