Repelita Jakarta - Narasi mengenai karakter asli mantan Presiden Joko Widodo yang dinilai temperamental kini tengah menjadi sorotan publik setelah munculnya sejumlah kesaksian terbaru yang kontradiktif dengan citra santunnya selama ini.
Salah satu sorotan tajam mengarah pada sebuah rekaman video yang memperlihatkan momen ketika Joko Widodo tampak menepis tangan seorang nenek lansia secara kasar saat kegiatan pembagian bantuan.
ADVERTISEMENT
Peristiwa tersebut memicu perdebatan luas di media sosial lantaran sang nenek yang awalnya sudah menerima amplop hanya berniat untuk bersalaman sebagai bentuk terima kasih, namun justru mendapat respons dingin.
Unggahan video yang menangkap bahasa tubuh serta ekspresi wajah dingin mantan kepala negara tersebut seketika memicu beragam persepsi negatif mengenai ketulusan sikapnya di hadapan masyarakat.
Informasi mengenai dinamika ini dibahas secara mendalam melalui tayangan interaktif yang disiarkan oleh kanal YouTube termul resmi pada hari Selasa, 15 September 2026.
Selain insiden dengan warga, perbincangan publik juga memanas setelah mantan pakar telematika Roy Suryo membeberkan cerita mengenai adanya aksi menggebrak meja di Hotel Sunan Solo.
Roy Suryo mengungkapkan bahwa figur yang disebutnya sebagai raja Jawa palsu sempat mengumpulkan tim hukumnya dan meluapkan kekesalan karena penanganan kasus hukum yang dilaporkannya berjalan sangat lambat.
Pihak pelapor semula dijanjikan oleh penyidik bahwa kasus tersebut akan rampung dalam waktu tiga hingga empat bulan, namun prosesnya justru menggantung hingga mendatangkan kekecewaan mendalam.
Pernyataan Roy Suryo tersebut diperkuat oleh pengakuan dari ketua tim hukum Merah Putih yang membenarkan adanya letupan emosional berupa gebrakan meja akibat rasa kesal yang luar biasa.
Meskipun pertemuan tersebut awalnya diklaim berlangsung santai sambil menikmati teh, kuasa hukum akhirnya mengakui bahwa Joko Widodo merasa sangat dirugikan sebagai korban pencemaran nama baik.
Di sisi lain, tayangan dari kanal YouTube termul resmi juga menyoroti isu politik lain mengenai blunder lisan yang dilakukan oleh Menko Pangan Zulkifli Hasan di hadapan Presiden Prabowo Subianto.
Zulkifli Hasan kedapatan salah menyebutkan nama desa dan kecamatan saat menghadiri acara panen raya, sehingga memicu seloroh dari Presiden Prabowo mengenai adanya kemungkinan reshuffle kabinet.
Sejumlah pengamat menilai ucapan Presiden Prabowo tersebut hanyalah gurauan untuk mencairkan suasana, mengingat posisi politik Zulkifli Hasan sebagai ketua umum partai yang dikenal sangat loyal.
Namun, bagi sebagian kalangan, kesalahan dalam agenda resmi kenegaraan tersebut tetap menjadi catatan penting yang memerlukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja kementerian terkait.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok