Repelita Jakarta - Gelombang kemarahan warga digital pecah menyusul munculnya laporan mengenai pergerakan massa dalam jumlah besar dari wilayah luar Jakarta menuju area persidangan pada hari Kamis, 5 November 2026.
ADVERTISEMENT
Isu pengerahan simpatisan secara masif tersebut mengemuka setelah sebuah postingan di platform media sosial membongkar adanya penggunaan puluhan armada transportasi umum untuk mengangkut ribuan orang.
Informasi pergerakan massa berskala besar ini sebelumnya diunggah oleh akun @titidapoerchococlub2811 melalui tulisan terbarunya yang terpantau sekitar satu jam lalu.
"Massa dari luar Jakarta diduga diangkut menggunakan bus pariwisata. Beredar pula klaim biaya bus mencapai Rp3 JUTA SEHARI!," tulis akun @titidapoerchococlub2811 mengungkapkan keheranannya atas anggaran masif tersebut.
Pihaknya mengecam keras tindakan mobilisasi tersebut karena dinilai mencederai nilai ketulusan berpolitik dan mengaburkan fakta kebenaran hukum lewat tekanan jumlah massa di jalanan.
"Siapa yang punya uang untuk membiayai semua ini? Siapa cukong di balik layar? JANGAN PERMAINKAN RAKYAT!," tambah akun @titidapoerchococlub2811 mempertanyakan aktor intelektual di balik pendanaan itu.
Dirinya mendesak agar dalang utama serta pihak penyokong dana di balik mobilisasi senyap ini segera diusut tuntas agar dinamika keadilan di pengadilan tidak disetir oleh kekuatan finansial.
"Kalau memang perjuangan, buktikan dengan kejujuran, bukan mobilisasi massa yang diduga dibayar! RAKYAT BUKAN BARANG SEWAAN! DEMOKRASI BUKAN PANGGUNG SANDIWARA! BONGKAR OTAK DAN PEMBIAYANYA!," tegasnya.
Sontak pernyataan tajam itu langsung mengundang ribuan reaksi keras dari warganet yang memadati kolom interaksi untuk meluapkan kekecewaan mereka atas fenomena pengkondisian opini publik.
"Udah paham sih, orang2 yg waras, bang. Slow aja, kita dah tahu raja kibul itu kyk apa manuvernya," tulis akun widhiejogja melayangkan komentar pedasnya sekitar satu jam yang lalu.
Kecurigaan mengenai asal-usul aliran dana fantastis untuk menyewa puluhan armada pengangkut itu juga disuarakan oleh warganet lain yang menduga adanya pemanfaatan uang negara secara ilegal.
"Uang hasil korupsi dipakai untuk bayar ini semua," tulis akun suratmannano menyuarakan tuduhannya di tengah panasnya perdebatan ruang siber tersebut.
Penilaian miring mengenai ambisi mantan Presiden Joko Widodo yang rela menggelontorkan dana melimpah demi mempertahankan reputasi keluarganya ikut dilontarkan oleh pengguna media sosial.
"Itulah hebatnya Jokowi, berani bayar mahal untuk nafsunya," tulis akun pututdsiswanto dalam kolom komentar yang diunggah sekira 56 menit yang lalu.
Pendapat senada dikemukakan netizen lain yang memandang biaya logistik persidangan itu hanyalah pengeluaran kecil bagi mantan kepala negara yang dituding memiliki tumpukan kekayaan tersembunyi.
"Ga kget bng..uang receh buat Jokowi..," tulis akun jacksonjackson7411 turut memberikan respons terhadap polemik akomodasi massa bayaran tersebut.
Kritik tajam mengenai orientasi kekuasaan mantan orang nomor satu di Indonesia itu juga diulas panjang oleh seorang warganet yang menganggap kebijakannya selama ini kerap merugikan stabilitas bangsa.
"Ya jelaslah wong uangnya banyak...rakyat Indonesia taulah uangnya drmana.. TST...dulu tujuannya jd presiden cuma cari kekuasaan dan uang...," tulis akun meela_gee sekitar 50 menit yang lalu.
Dirinya menganggap pengerahan kelompok massa ini merupakan bentuk nyata dari strategi adu domba horizontal yang sengaja diciptakan demi mengamankan posisi elite politik tertentu.
"boro² mikirin rakyat yg ada malah rakyat dibenturkan," sambung akun meela_gee dalam lanjutan argumennya di kolom interaksi media sosial tersebut.
Dugaan mengenai keterlibatan gurita bisnis ilegal mulai dari sektor pertambangan hingga ekosistem perjudian daring sebagai penyokong dana pergerakan ini diembuskan oleh netizen lain.
"Duit korupsi tambang judol dll semuanya yg tak berseri," tulis akun surpraba71 menyindir ketiadaan transparansi keuangan dari kelompok simpatisan tersebut sekira 51 menit lalu.
Sentilan menohok mengenai kontradiksi antara klaim keaslian dokumen kelulusan dengan aksi pengerahan ribuan orang bayaran ke area pengadilan ikut dipertanyakan secara sinis oleh warganet.
"KLO merasa ijazah asli kenapa koq bawa massa bayaran🤣🤣," tulis akun meryrostiti mempertanyakan urgensi pengawalan ketat tersebut sekitar 33 minut lalu.
Kekayaan tanpa batas yang dikumpulkan selama satu dekade memegang kendali kepemimpinan nasional disorot oleh netizen sebagai modal utama dalam memuluskan segala macam manuver lapangan.
"Duitnya egk habis2..10 tahun berkuasa segala tanda tangan menghasilkan uang," tulis akun adhek_ayah_anin_andin memberikan ulasan miringnya sekira 22 menit yang lalu.
Di sisi lain, hilangnya dukungan organik dari masyarakat asli dinilai menjadi alasan utama mengapa strategi penyewaan massa bayaran ini terus diulang demi menciptakan ilusi dukungan publik.
"Dah ga anek dr dl masa bayaran mulu nyata fakta yg bela tdk ada wkwkwkkw," tulis akun delon7971 membeberkan realitas sepihak yang diamatinya sekitar 24 menit lalu.
Kekecewaan mendalam atas lambatnya kemajuan peradaban politik bangsa ditutup oleh keluhan netizen yang menyayangkan rendahnya literasi sebagian masyarakat akibat godaan materi instan.
"Itulah kenapa Indonesia ga maju-maju, karena masyarakat nya gampang dibodohi hanya karena paket sembako dan uang ratusan ribu tanpa memikirkan nasib Indonesia kedepan.. karena orang bodoh itu gampang dikibulin...🫵🏻🫵🏻," tulis akun tamindagelan sekitar 27 menit lalu.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
View on Threads