Berita, Nasional

[VIRAL] Sebut Muslim Jabar Dan Sumbar Barbar Abu Janda Diamuk Netizen Hingga Didesak Ditangkap Otoritas Hukum

Repelita.id

24 May 2026 16:48 WIB

[VIRAL] Sebut Muslim Jabar Dan Sumbar Barbar Abu Janda Diamuk Netizen Hingga Didesak Ditangkap Otoritas Hukum
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Ruang siber domestik kembali dikejutkan oleh penyebaran dokumentasi visual kontroversial dari seorang pegiat digital kenamaan yang memicu perdepatan sengit di kalangan netizen.

Dalam potongan video yang beredar luas tersebut, Permadi Arya alias Abu Janda terlihat mengenakan pakaian kasual gelap dengan simbol keagamaan berukuran besar saat berbicara dalam sebuah forum komunitas di luar negeri.

ADVERTISEMENT

Pemaparan yang disampaikannya di hadapan audiens asing tersebut berfokus pada dinamika kebebasan berkeyakinan dengan menunjuk kluster wilayah tertentu di tanah air sebagai zona yang tidak kondusif.

Secara spesifik, dirinya memberikan label negatif terhadap karakteristik sosial kemasyarakatan umat muslim yang bermukim di daerah Jawa Barat serta Sumatera Barat.

“Islam di provinsi-provinsi ini mungkin lebih keras, yang satu di Jabar, yang satu lagi di Sumbar. Saya juga aneh, yang ada bar-barnya kok banyak barbar,” ujar Abu Janda dalam video tersebut.

Pernyataan tendensius itu langsung memanen kecaman hebat serta gelombang protes terbuka dari segenap kelompok masyarakat, khususnya warga asal Pasundan dan ranah Minang.

Berbagai platform komunikasi daring kini dipenuhi oleh unggahan ulang video tersebut yang disertai dengan kritik atas pola komunikasi sang influencer yang dinilai provokatif.

Merespons kegaduhan yang terus meluas, tokoh agama Ustaz Helmi Firdaus langsung melayangkan teguran keras melalui saluran komunikasi digital pribadinya demi meredam gejolak horisontal.

Dirinya menilai tuduhan yang dilayangkan oleh sang aktivis siber merupakan bentuk pemutarbalikan fakta berbahaya yang dapat merusak tatanan integrasi bangsa.

“Ini Abu Janda sudah luar biasa jahat fitnahnya. Muslim di wilayah barat, khususnya Jabar & Sumbar dibilang barbar, intoleran dll (malas saya posting videonya). Kalau narasi-narasi perpecahan seperti ini (yang memang khas Abu Janda) terus dibiarkan, tidak ada tindakan hukum terhadap ybs, saya khawatir masyarakat akan mengambil tindakan sendiri. Sebaiknya segera #tangkapabujanda demi kerukunan hidup antar umat beragama di Indonesia,” tulis Helmi Firdaus.

Rekam jejak figur publik ini memang kerap diwarnai oleh berbagai aksi pembelaan terhadap kaum minoritas melalui kemasan konten edukasi toleransi di media sosial.

Namun di sisi lain, beberapa pernyataan personalnya di ruang terbuka dinilai sering melewati batas kepatutan hingga menyinggung perasaan mayoritas pemeluk agama.

Pada periode beberapa tahun silam, dirinya bahkan sempat terseret dalam pusaran perkara hukum formal atas dugaan ujaran kebencian yang menyudutkan kelompok keagamaan tertentu.

Kasus hukum tersebut sempat berjalan hingga masuk ke dalam tahap pemeriksaan intensif oleh jajaran penyidik kepolisian, meski kelanjutan penanganan perkaranya tidak terdengar lagi.

Selain itu, eksistensinya juga sempat menjadi sorotan tajam publik setelah terlibat dalam sebuah perdebatan panas mengenai konflik geopolitik internasional di sebuah stasiun televisi nasional.

Insiden adu argumen di dalam studio penyiaran itu berakhir dengan tindakan tegas dari kru komersial karena adanya penggunaan pilihan kata yang dinilai kurang pantas.

Melihat gejolak tersebut, akun Instagram padanginfo_id melayangkan pertanyaan interaktif kepada para pengikutnya mengenai tudingan miring yang dialamatkan kepada masyarakat Minangkabau.

Reaksi keras dari warganet langsung membanjiri kolom komentar, di mana salah satu netizen dengan akun harisurya17 mempertanyakan celah hukum untuk menjerat sang konten kreator atas dugaan penyebaran kebencian berbasis suku, agama, ras, dan antar-golongan.

“Apa speerti ini tidak bisa dilaporin ya..? Karna msuk ke pasal 28 ayat 2 UU ITE? Krna menyebarkan informasi kebencian sara? Sama pasal 156 KUHP?” tulis harisurya17.

Di sisi lain, terdapat pandangan berbeda dari akun revijak22 yang menganggap tudingan intoleransi di beberapa daerah di kawasan barat Indonesia memang nyata terjadi di lapangan.

“Tapi ada benarnya bhwa daerah Jabar sprti Banten, Depok, Bogor itu sangat intolerans, blum lgi provinsi Aceh, Padang dan sekitarnya wah byk kasus intoleransi trjdi,” komentar revijak22.

Sementara itu, akun bekampojoksyariah.padang memberikan ulasan panjang mengenai indahnya kedamaian dan toleransi beragama yang terjalin erat di wilayah Kota Padang, Sumatera Barat.

“Klo nggak salah hadist tidak masuk surga seorang muslim yg mengganggu tetangga nya walaupun tetangga nya non muslim, jadi Rasulullah mengajarkan umat Islam utk berbuat baik kepada siapapun termasuk kepada non muslim, bagaimana Rasulullah mencontohkan Islam adalah agama kebaikan rahmatan Lil 'alamin, saya tinggal di Padang di Sumatra Barat kami berdampingan hidup bersama dgn kristen, tionghoa, karena bertetangga dgn nonis sampai saat ini, ketika di suatu daerah/negeri muslim mayoritas lihatlah kita bisa hidup berdampingan, tapi coba lihat di beberapa negara luar seperti india muslim minoritas malah tertindas tidak boleh sholat, tidak boleh memakai hijab, makanya di Indonesia non muslim aman utk melakukan ibadah karena mayoritas Islam di Indonesia banyak yg paham hidup toleransi,” jelas bekampojoksyariah.padang.

Banyak pula warganet di Sumatera Barat yang langsung menandai akun-akun milik tokoh politik serta pimpinan daerah setempat, seperti kepala daerah saat ini serta perwakilan legislatif di tingkat pusat.

Langkah ini diambil oleh akun iampoetrasholihin dan arena_photography agar para pemangku kebijakan tidak tinggal diam melihat wilayahnya dilekati label negatif di hadapan publik luar negeri.

“tanggapannya buya @mahyeldisp uda @vasco_ruseimy dan pak @andre_rosiade,” tulis iampoetrasholihin.

“Jangan sampe diam buya @mahyeldisp om @vasco_ruseimy bg @andre_rosiade,” tambah arena_photography.

Kemarahan juga meluas di kalangan warga yang merasa tersinggung karena merasa adat istiadat dan kerukunan hidup beragama mereka diusik oleh pernyataan subyektif tersebut.

Akun aliyadiindra mengungkapkan keterkejutannya secara emosional karena wilayah Sumatera Barat ikut diseret ke dalam pusaran narasi buruk yang digulirkan oleh sang aktivis.

“Lah lah lah ang singguang Lo sumbar,” ketus aliyadiindra.

Desakan agar aparatur penegak hukum segera bertindak juga terus menggema dari para netizen yang khawatir jika perkara ini dibiarkan akan memicu disintegrasi sosial yang lebih luas.

Akun hakim_rsyd berharap jajaran pimpinan daerah segera meninjau dan mengambil sikap tegas terhadap ujaran yang dinilai mencoreng nama baik warga Minang tersebut.

“Bapak pimpinan daerah ku yg terhormat, tolong ini ditinjau Bapakkk.. @mahyeldisp @vasco_ruseimy @andre_rosiade,” pinta hakim_rsyd.

Kritik terhadap ruang publik yang dianggap terlalu bebas memberikan panggung kepada figur-figur kontroversial juga turut disuarakan oleh warganet yang menyayangkan peredaran konten tersebut.

Akun fajris__ menilai bahwa fenomena kegaduhan digital ini terjadi karena adanya ruang luas yang diberikan kepada narasi-narasi yang kurang berbobot di tanah air.

“D negeri ini kebanyakan org gil* dan tol yg d kasih panggung 🙌😮,” ungkap fajris__.

Masyarakat juga mempertanyakan sejauh mana sang influencer memahami kondisi sosiologis masyarakat Minangkabau secara mendalam sebelum melontarkan pernyataan di forum internasional.

Akun albertscorpio28 memperingatkan sang aktivis siber agar lebih berhati-hati dalam berbicara tanpa didasari fakta empiris yang valid mengenai kehidupan beragama di Sumatera Barat.

“Sejauh mana kau mengenal SUMBAR......????hati hati kau ngomong ,....,” tegas albertscorpio28.

Beberapa komentar lainnya mengaitkan langgengnya eksistensi sang pegiat siber dengan konstelasi kepemimpinan nasional dari masa ke masa yang dianggap kurang tegas menindak figur yang dekat dengan kekuasaan.

Akun aliefpayo menyindir posisi sang influencer yang terkesan selalu aman dari jerat hukum meskipun kerap memproduksi pernyataan yang mengundang polemik di tengah masyarakat.

“Dubilih mode iko masih dipaliharo dari zaman mulyono sampai kini zaman wowo😂,” tulis aliefpayo.

Nada pesimis mengenai penegakan hukum juga disampaikan oleh akun manzein.1971 yang meragukan laporan masyarakat akan diproses secara objektif oleh pihak kepolisian.

“Ini bisa dilaporkan , tapi percuma juga dia dekat dengan pemerintah, Ndak bakal digubris laporan nya,” kata manzein.1971.

Akun portalpadang mengunci perdebatan dengan menyebut narasi-narasi semacam ini sebagai sampah yang berpotensi merusak hubungan keharmonisan antar-pembeluk agama di masa depan.

“Sampah sampah Pemecah belah umat agama, Buat Agama sebelah kalo masih di pelihara yang seperti ini, kedapanya bakalan kacau ini...” pungkas portalpadang.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung