Repelita [Jakarta] - Rekam jejak ketegangan antara petinggi kepolisian Kombes Pol Hengki Haryadi dan pimpinan ormas Rosario de Marshall atau Hercules kembali menjadi sorotan publik di media sosial.
Pembahasan mengenai rekam jejak pemberantasan premanisme tersebut diunggah oleh akun @rudy_buntar
ADVERTISEMENT
pada tanggal 29 Agustus 2026.
Pemilik akun mengulas kembali momen ketika Hercules sempat melontarkan tantangan terbuka kepada Hengki Haryadi pada pertengahan tahun 2023 silam.
Dalam narasi unggahannya, @rudy_buntar
menuliskan ungkapan mengenai perselisihan tersebut, "Jangan SOK JAGOAN JIKA MASIH MAKAN NASI Juni 2023, viral video Hercules nantang duel Hengki Haryadi. Dia bilang bisa kalahin Hengki 15 menit karena merasa dizalimi. Tapi besoknya Hercules langsung minta maaf. Dia ngaku khilaf, cuma spontanitas karena salah paham info. Dia juga minta maaf ke Kapolri dan Kapolda Metro.".
Sikap kompromistis dan tindakan tegas aparat penegak hukum dalam menghadapi aksi premanisme turut disinggung dalam unggahan tersebut.
Pemilik akun mengutip kembali pernyataan tegas Hengki Haryadi dengan menyertakan kalimat, "Sikap Hengki Hengki tegas: “Negara tidak boleh kalah dengan premanisme atau kelompok manapun di atas hukum”. Katanya pemberantasan premanisme itu program prioritas Kapolri.".
Pada utas sambungannya, akun @rudy_buntar
memperjelas konteks keberhasilan aparat kepolisian dalam menindak kelompok perusuh dan premanisme di ibu kota.
Pemilik akun menambahkan penjelasan mengenai rekam jejak penangkapan tersebut dengan menuliskan, "Intinya, headline “pernah gulung Hercules” itu ngacu ke rekam jejak Hengki yang udah 3x nangkap Hercules sejak 2013, dan sikap tegasnya lawan premanisme".
Unggahan tersebut lantas memicu beragam tanggapan dari para pengguna media sosial yang membandingkan ketegangan tersebut dengan sejarah penindakan premanisme di masa lalu.
Akun @alexaceh
memberikan ulasan sejarah tindakan tegas kepolisian pada tanggal 29 Agustus 2026 dengan menuliskan, "Tahu nama Pak Sutanto? Mantan Kapolri era SBY? Lulusan Akabri 1973 itu, sejak masih Kapolres Nias dia sudah dimusuhi mafia dan preman apalagi setelah jadi Kapolda Sumut. Lawan terbesarnya adalah Olo Panggabean, legendnya gangster di Medan. Tak lama menjabat, karena lobi² preman berkedok ormas saat itu, dicopot dan dipindah. Enam tahun kemudian, dilantik jadi Kapolri, dibabat lah preman, prostitusi dan perjudian yang dikelola sosok yang ditakuti itu.".
Tudingan mengenai keterlibatan oknum dalam jaringan ormas turut dilontarkan oleh akun @sa.kti7721
pada tanggal 29 Agustus 2026 melalui cuitannya, "Menurut prasangka saya polisi juga makan seteron dari geng Hercules..".
Cuitan prasangka tersebut kemudian ditanggapi langsung oleh pemilik akun @rudy_buntar
pada tanggal 29 Agustus 2026 yang memberikan balasan singkat, "Beberapa oknum, iya".
Sementara itu, opini terkait konstelasi politik dan posisi ormas disampaikan oleh akun @fransiskusleo61
pada tanggal 29 Agustus 2026 dengan komentar, "Jaman prabowo, ormas langsung di bawah presiden. Polri harus hormat kepada ormas..".
Kritik keras dengan bahasa kasar juga dituliskan oleh akun @jozzyexotique
pada tanggal 29 Agustus 2026 melalui cuitan pendeknya, "@prabowo.gibran2 kontol lah".
Pertanyaan mengenai konsistensi ketegangan aparat terhadap premanisme dilontarkan oleh akun @kms_zainal
pada tanggal 29 Agustus 2026 dengan menuliskan, "Masih bisakan kata-kata tegas dari Pak Hengki itu dipakai oleh pejabat kepolisian sekarang ??? Negara tidak boleh kalah dengan premanisme??".
Diskusi di platform media sosial tersebut diakhiri dengan tanggapan sinis dari akun @hondro1971
pada tanggal 29 Agustus 2026 yang menyatakan, "Tdk bisa, karena parcok sdh menjadi piaraan penguasa".(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
View on Threads