Berita, Internasional

[WARNING] AI Jadi Senjata Baru Perang Modern, Parlemen Eropa Ingatkan Hoaks dan Propaganda Digital Bisa Lumpuhkan Negara Tanpa Rudal dan Tank

Repelita.id

01 June 2026 22:36 WIB

[WARNING] AI Jadi Senjata Baru Perang Modern, Parlemen Eropa Ingatkan Hoaks dan Propaganda Digital Bisa Lumpuhkan Negara Tanpa Rudal dan Tank
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Ancaman terhadap kedaulatan sebuah bangsa kini telah bergeser ke ranah digital yang lebih kompleks.

Anggota Parlemen Eropa, Michał Kobosko, menegaskan bahwa negara tidak lagi harus menghadapi serangan fisik seperti ledakan rudal atau pergerakan tank untuk dilemahkan.

ADVERTISEMENT

Anda tidak perlu menembak, atau melepaskan drone atau rudal kepada kami untuk mencoba melemahkan masyarakat, ungkap Kobosko dalam sebuah peringatan keras.

Menurutnya, kecerdasan buatan telah menjadi senjata baru yang efektif untuk memanipulasi pola pikir masyarakat dalam skala masif.

Perang modern saat ini berlangsung di layar ponsel melalui penyebaran propaganda, hoaks, hingga manipulasi opini publik yang bergerak sangat cepat.

Kobosko menyoroti peran pihak tertentu yang secara aktif menggunakan teknologi untuk melancarkan serangan hibrida terhadap negara-negara Barat.

Serangan siber kini menyasar infrastruktur krusial, mulai dari lembaga pemerintahan hingga perusahaan swasta, dengan frekuensi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Polandia bahkan menjadi negara dengan intensitas serangan siber tertinggi di Uni Eropa sejak pecahnya invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022.

Tantangan semakin berat karena laju perkembangan teknologi kecerdasan buatan melampaui kemampuan para regulator dalam menyusun aturan pelindung.

Para pelaku industri telekomunikasi dalam konferensi PIKE 2026 di Sopot turut memperingatkan bahwa regulasi tertinggal jauh di belakang inovasi teknologi.

Kobosko menekankan bahaya besar muncul ketika manusia mulai menelan mentah-mentah informasi dari mesin tanpa menyertakan sikap kritis.

Ini merupakan kekhawatiran besar dan masalah utama bagi negara.

Karena kita hidup dalam realitas perang hibrida, tambahnya mempertegas kondisi yang sedang dihadapi dunia saat ini.

Ia menyoroti bahwa AI hanyalah alat yang bekerja pada data, tanpa memiliki pemahaman akan konteks atau realitas kehidupan manusia yang sesungguhnya.

Meski sektor pekerjaan terancam oleh otomatisasi, ia meyakini profesi yang memerlukan penilaian manusia serta pemahaman konteks mendalam tetap akan bertahan.

Namun, yang paling krusial adalah risiko degradasi kepercayaan publik terhadap fakta akibat masifnya rekayasa konten berbasis kecerdasan buatan.

Serangan digital sering kali berjalan tanpa suara atau jejak fisik, namun mampu melumpuhkan sistem vital sebuah negara secara mendadak.

Masyarakat diimbau untuk selalu waspada terhadap konten emosional, akun anonim, serta narasi provokatif yang sengaja dirancang untuk memicu kepanikan.

Kebohongan kini dapat diproduksi secara massal dan murah, mengubah fakta menjadi senjata untuk menciptakan kebingungan di tengah masyarakat luas.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung