Repelita Washington D.C. - Pemerintah Amerika Serikat secara drastis mengumumkan sayembara fantastis senilai 10 juta dolar AS guna memburu informasi keberadaan pemimpin kelompok militan Hashim Finyan Rahim al-Saraji.
Langkah ekstrem dari Departemen Luar Negeri AS ini dipicu oleh penilaian bahwa sosok tersebut telah menjelma menjadi ancaman keamanan yang sangat krusial dan membahayakan stabilitas regional.
ADVERTISEMENT
Al-Saraji diketahui sebagai otak di balik kelompok Kata'ib Sayyid ul-Shuhada (KSS), sebuah faksi bersenjata yang memiliki pengaruh besar dalam memicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Tawaran hadiah besar ini menjadi sinyal politik paling gamblang dari Washington untuk memutus rantai serangan terhadap aset-aset diplomatik mereka yang tersebar di berbagai negara.
Keterlibatan kelompok KSS diduga kuat mendapat sokongan penuh dari kekuatan regional Iran dalam melakukan serangkaian aksi sabotase terhadap kepentingan Barat.
Melalui akun resmi di platform X pada tanggal 25 April 2026, RFJ menyatakan, "Imbalan hingga Rp172 miliar untuk informasi tentang Pemimpin KSS Hashim Finyan Rahim al-Saraji."
Kelompok ini dituding sebagai dalang intelektual di balik berbagai rentetan kekerasan brutal yang telah merenggut nyawa warga sipil tak berdosa di Irak.
Tidak hanya menyasar penduduk lokal, personel militer serta pangkalan Amerika di Irak dan Suriah juga menjadi target utama dari operasi ofensif kelompok tersebut.
Fasilitas diplomatik yang seharusnya menjadi zona netral dan dilindungi hukum internasional pun tidak luput dari serangan intensif dan terkoordinasi.
Pemerintah AS kini sangat menantikan informasi akurat mengenai keberadaan tokoh ini melalui saluran komunikasi aman seperti Tor atau Signal.
Washington secara resmi menjanjikan jaminan perlindungan maksimal berupa program relokasi bagi para informan yang mampu memberikan data valid.
Langkah kontroversial ini menyusul tawaran serupa pada tanggal 1 April lalu yang hanya senilai 3 juta dolar AS terkait aksi teror di fasilitas diplomatik.
Tekanan diplomatik di kawasan semakin meningkat pasca Departemen Luar Negeri AS memanggil Duta Besar Irak untuk Washington dalam waktu dekat ini.
Pemanggilan tersebut bertujuan untuk membahas secara serius tanggung jawab pengamanan atas serangan berulang di Baghdad yang didalangi kelompok pro-Iran.
Ketegangan yang memuncak ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak akan mentoleransi segala bentuk serangan terhadap kedaulatan diplomatik mereka tanpa konsekuensi tegas.
Washington secara resmi menawarkan hadiah sebesar Rp172 miliar bagi siapa pun yang bisa melacak lokasi persembunyian pemimpin militan Hashim Al-Saraji.
Kelompok KSS di bawah komando Al-Saraji dituduh bertanggung jawab atas serangan terhadap warga sipil dan fasilitas diplomatik Amerika Serikat.
Sebagai imbalannya, pemerintah AS memberikan jaminan keamanan penuh serta program relokasi bagi informan yang berhasil membantu proses penangkapan.
Perselisihan sengit antara Amerika Serikat dan kelompok militan di Irak telah meningkat drastis seiring dengan intensitas serangan roket dan drone.
Kelompok Kata'ib Sayyid ul-Shuhada merupakan salah satu faksi bersenjata paling aktif yang bergerak di wilayah perbatasan Irak-Suriah dengan agenda anti-keterlibatan asing.
Eskalasi yang terus berlangsung ini kini benar-benar menguji ketahanan hubungan bilateral antara Washington dan Baghdad dalam menjaga stabilitas keamanan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok